Wednesday, July 11, 2007

Join Vinefire!

'Mati' Karena Cokelat



Jakarta - Cokelat? Hmm...saya termasuk penggemar beratnya. Cokelat yang diolah menjadi cake dengan tekstur lembut, mengelus lidah. Warnanya cokelat kehitaman, tak menarik, tetapi rasanya sangat legit menggigit. Saat dinikmati dengan strawberry blended ice ternyata enak-enak saja. Apalagi saat mencicipi ada 'kejutan' yang bikin jantung berdegup kencang!

Pertama kali saya mengenal nama Death By Chocolate di sebuah toko cokelat di Australia. Toko yang menjual home made cokelat itu memang membuat saya kalap. Semua cokelat bisa dicicipi dan variasi rasanya sangat banyak. Bahkan saya sempat menempelkan hidung di kaca penyekat dapurnya karena ingin mengendus terus aroma cokelat yang wangi. Dari truffle, candy hingga aneka cake cokelat. Belakangan saya menemukan Death By Chocolate merupakan nama cake cokelat yang banyak dipakai hampir di semua toko kue. Cakenya merupakan butter cake yang memakai paduan cooking chocolate 50% dan cokelat bubuk. Cake dilapisi dan disiram dengan chocolate ganache. Ya, pastilah rasanya cokelat banget! Ini yang mungkin membuat orang 'mati' keenakan dan ketagihan.

Menjelang senja saat menyusuri jalan Pangrango, dari Pia Apple Pie lurus mencari jalan pulang selepas berkeliling Bogor, tiba-tiba kami melihat papan nama kecil 'DBC'. Nah, ini dia 'Death By Chocolate' yang disebut-sebut teman saya di Bogor. Saya dan teman-teman tak membuang waktu, langsung mampir ke kafe yang bertempat di sebuah rumah tua di Jl. Ceremai. Nama lengkap toko ini 'Death By Chocolate & Spageti' dan bukan cabang dari 'Death By Chocolate' (dari Death By Chocolate International Limited, New Zealand) yang ada di Pondok Indah Mall. Suasana kafe nyaris sepi, dan nuansa warna cokelat kehitaman yang mendominasi ruangan membuat kesan magis. Ditambah lagi, relung-relung jendela dibuat setengah lingkaran, batu kali di dinding dicat hitam, kursi dan meja memakai warna hitam dan cahaya lampu minyak di meja membuat kesan makin 'seram'. Lha, mau makan cokelat kok kayak mau layat di kuburan. Memang itulah kesan 'death' yang diterjemahkan sebagai suasana mati atau 'kematian'. Untung saja, masih ada ruang tengah yang terang benderang. Karena takut dengan suasana seram, kami pindah ke ruangan yang terang.

Sesuai dengan namanya 'Death By Chocolate' (DBC), maka yang menjadi unggulan menunya adalah cake cokelat dan spaghetti bakar. Cake cokelat ditawarkan dalam berbagai ukuran sedangkan untuk spaghetti bakar tersedia Spinach Fritata, Tomato, Ground Beef, Chicken Mushroom, Tuna, Smoked Chicken, Sausage dan Seafood. Sebagai pelengkap ada sup ravioli, red kidney beans, sosis, salad dan omelet. Spaghetti juga ditawarkan dalam beragam saus seperti carbonara, bolognese, marinara, octopus dan spicy. Sedangkan minuman cokelat unggulannya adalah Hot by Chocolate, Cool By Chocolate dan Euphoria by Chocolate. Tentu saja kami memesan DBC yang kecil dan spaghetti bakar daging cincang untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Sebelum memesan sang pramusaji menawari kami mencicipi kue DBC yang ada di dapur di sisi kiri kafe. Lewat jendela dengan relung setengah lingkaran dan gelap, tiba-tiba muncul seorang staf memakai jubah dengan capuchon cokelat tua, nyaris menutupi seluruh mukanya persis seperti di film horor. Hiii...! Teman saya nyaris menjerit karena kaget! Ya, siapa tak kaget, yang diharapkan sepotong kue cokelat yang muncul pria misterius. Mungkin suasana misterius yang inilah yang ingin disejajarkan dengan nama 'death'. Dugaan saya terbukti karena cake DBC berbentuk oval disajikan dengan alas kertas aluminium, diberi batu nisan dari cokelat. Penampilannya mirip dengan kuburan. Kuburan cokelat! Saat sampai di lidah, tekstur kue lembut tak beda dengan brownies biasa. Rasa cokelatnya pekat kuat dan sama kuat tonjokannya dengan rasa manis legit menggigit! Saya duga ini dari compound dark chocolate yang menjadi bahan utama. Untung saja rasa manis yang tak saya sukai tertutup dengan strawberry blended ice yang asam-asam segar. Coba kalau dinikmati dengan secangkir cokelat panas yang juga manis, jangan-jangan saya jadi makin manis! Spaghetti bakar yang ditawarkan tak lain adalah schotel dengan bahan spaghetti, susu, keju, telur, daging cincang dan bumbu. Rasa gurihnya tak terlalu kuat (mungkin tak memakai krim atau kurang keju) dan cenderung 'datar'. Karena perut kami sudah terasa penuh maka spaghetti bakar terpaksa kami bungkus untuk dibawa pulang.

Kafe ini rasanya pas kalau dikunjungi di malam Jum'at terutama buat mereka yang suka hal-hal magis misterius. Tapi, buat mereka yang ingin berdua-duaan dalam gelap, kue DBC yang pekat manis bisa jadi teman yang pas. Tak perlu takut, cahaya temaram dari lilin tidak akan membuat wajah terlihat jelas apalagi jika sampai berlelehan air mata. Paling tidak jika ke Bogor, ada satu tempat nongkrong baru buat penggemar cokelat!

Death By Chocolate & Spageti
Jl. Ceremai 22, Bogor
Telp: 0251-377725
Jam buka :07.00 - 24.00
Harga: spaghetti bakar: Rp. 12.000 - Rp. 19.000; spaghetti : Rp. 25.000 - Rp. 30.000; cake DBC : Rp. 28.000 (dev/Odi)


>>>
www.detikfood.com

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home