Wednesday, July 11, 2007

Join Vinefire!

Melacak Kelezatan Tahun 1920



Jakarta - Singgah di Warong ini bagai memasuki lorong waktu menuju kejayaan Batavia 80 tahun silam. Bukan hanya suasana ceria sebuah warung tetapi detil-detil sejarah membingkai sajian santapan serba prima. Dari dapur Shanghai, dapur seorang nyonya Betawi hingga dapur seorang peranakan dari Jawa Tengah. Semuanya menyatu dalam kelezatan yang unik dan penuh rasa.

Warong Shanghai Blue 1920 yang dibuka 9 bulan silam ini terletak di Jalan Kebon Sirih, persisi di sudut kanan Jl. Sabang. Bangunan resto (dulu Apotik Gambir) terlihat tak terlalu mencolok. Menapaki pintu masuk yang langsung ke area resto, langsung terekam suasana tempo doeloe yang kuat. Jajaran poster film era 20 an menghiasi dinding. Deretan stoples-stoples tinggi berisi aneka kue kering ada di sisi kanan dan meja kursi dengan detil bunga-bunga berwarna biru muda, merah, hijau memantulkan gaya Shanghai Art Deco. Tentu saja gambar poster wanita Cina dengan cheongsam memperkuat aroma Shanghai di tahun 1920. Lampu yang temaram dan hiasan beragam benda etnik yang antik memperkuat suasana masa silam yang penuh kharisma.

Resto ini didirikan untuk mengenang Warong Shanghai Sunda Kelapa yang populer di era 20 an. Warung yang didirikan oleh Siti Zaenab yang menikah dengan seorang peranakan Cina, Chan Mo Sang yang nenek moyangnya berasal dari Shanghai. Warung yang menjual makanan Babah dan Betawi ini menjadi toko serba ada yang melayani semua keperluan pelaut yang singgah di Sunda Kelapa. Beberapa barang yang ada di warung (yang tutup di tahun 1940) ini kemudian menjadi bagian dari Warong Shanghai Blue ini. Seperti kursi cukur, hiasan dinding, mesin sol sepatu, pintu, dll. Apa saja kelezatan yang ditawarkan oleh Warong ini?

Dari buku menu yang besar, dituturkan sekilas tentang sejarah Warong Shanghai di masa silam dan makanan yang ditawarkan dibagi menjadi 3 kelompok. Menu Babah Betawi, racikan Mpok Siti Zaenab, menu babah Jawa, paduan kuliner Cina dan Jawa serta menu Shanghai 1920 yang mengungkap kuliner Shanghai yang ternama di era 20 an. Membaca nama-nama makanannya membuat kami penasaran. Dari dapur babah Betawi ada nasi Uduk Bebek, Soto Tangkar, Rijstafel Soenda Kelapa dan Ikan Goreng Moelet garing Boembon. Setelah bolak-balik memeriksa daftar menu, kami memutuskan untuk mencicipi menu Shanghai 1920, kami ingin mengenang keindahan Shanghai di era 20 an melalui kelezatan makanannya.

Mekwei-mekwei wo ai ni 'Rose Rose I love U' sebuah lagu pop Shanghai di tahun 20 an yang menjadi inspirasi racikan mocktail yang menjadi minuman pembuka kami. Disajikan dalam tall glass, mocktail ini berisi cincangan strawberry dan jeruk engan air soda yang manis asam menggigit. Cukup segar dinikmati di siang hari. Seafood yang menjadi ciri utama sajian Shanghai tak kami lewatkan. Sebagai pembuka 'Lion Head Soup', sup berkuah asam pedas segar dengan isi bola-bola adonan udang kepiting dan jamur yang berukuran besar. Mulus dan gurih saat digigit, serasi dengan kuahnya yang segar. Cincangan daging ikan yang dibungkus dengan kulit tahu, digulung kecil dengan simpul di ujung menjadi sasaran kami berikutnya. Kulitnya sangat renyah gurih, daging ikannya lembut apalagi saat dicelup saus soya yang sedikit legit. Benar-benar pas sebagai pembuka.

Bebek Panggang Shanghai dan Ikan Goreng dengan paprika menjadi pilihan sajian utama. Potongan bebek berwarna cokelat disajikan dalam piring oval yang dialasi potongan kulit pangsit goreng. Kulit luar bebek panggang ini terasa renyah gurih, sementara dagingnya terasa sangat lembut tanpa jejak aroma anyir. Setelah dicelup dengan saus cabai yang asam segar rasanya sempurna. Sementara ikan bawal hitam yang digoreng kering, sangat terasa kesegarannya, gurih lekat. Dengan siraman saus berupa irisan paprika, ebi dan cabai merah kering membentuk paduan rasa yang seimbang. Diiringi suapan nasi gurh dan nasi ulam yang ditaruh dalam wadah berupa patung kayu unik kedua sajian itupun tandas. Melengkapi menu Shanghai, Es Shanghai Blue 1920 menjadi penutup santap siang kami. Es campur andalan Chan Mo Sang ini memiliki 8 jenis isi; nanas, kacang merah, biji mutiara, kolang-kaling, cincau, tapai ketan putih, leci dan anggur yang ditimbun es serut dan disiram sirop berwarna biru. Hmm...sebuah ending yang pas, manis asam dan segar.

Meskipun terlihat mungil, di lantai 3 resto ini ada Opium Room. Ya, sebuah private room yang mewakili sebuah ruang untuk menghisap candu. Ditata dengan warna merah biru, lengkap dengan pajangan ranjang dan pipa penghisap candu, tamu bisa menggelar acara pribadi. Wah, kamipun berjanji akan kembali untuk mencicipi menu Betawi racikan Mpok Siti, mungkin di suatu akhir pekan sambil menikmati alunan musik jazz. Hmm... Anda mau bergabung mencicipi kelezatan dalam lorong waktu?

Warong Shanghai Blue 1920
Jalan Kebon Sirih Raya 79
Jakarta Pusat
Telpon : 021 391-8690
Jam Buka : 11.00 - 23.00 WIB
Harga: Rp. 28.000,00 - Rp. 78.000,00 per porsi
(dev/Odi)

>>>www.detikfood.com

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home